SANDYAKALA (Bagian 32)
32 Cantik
“Aku ke tempatnya Pak Said untuk beli
kacang hijau Mak,” pamit Khaerani kepada Mak Lela. Dilihatnya wanita paruh baya
itu tersenyum. “Kenapa senyum-senyum begitu Mak? Memang ada yang aneh dan
lucu?” Mak Lela mengatakan kalau dirinya sekarang merasa senang karena melihat
perubahannya. “Memang apa yang berubah?”
“Jadi lebih ceria, segar dan
bersemangat!”
“Bukannya dari dulu aku memang
begitu?”
“Beda lho Mbak,
yang sekarang ini lebih dari yang kemarin-kemarin.”
“Ah, Mak Lela bisa saja.”
Mak Lela tersenyum. ”Tapi apa pun
alasannya, Mak Lela ikut senang dengan keadaan Mbak Rani yang sekarang ini.”
***
Pak dan Bu Said sedang tidak ada
dirumah, ketika Khaerani membeli kacang hijau, kata salah satu karyawannya
mereka sedang pergi kondangan ke salah satu pelanggan mereka di kecamatan
dengan diantar oleh Bagas.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya,
Khaerani segera pulang. Baru saja akan menaiki sepedanya, tiba-tiba seseorang
memanggil namanya.
“Rani!”
Khaerani menoleh kearah pintu rumah Pak Said, dilihatnya Mutiara yang baru saja
membuka pintu bersama dengan seorang perempuan cantik disampingnya, yang
kemudian berjalan mendekatinya. “Beli kacang hijau, Ran?” tanya Mutiara. Khaerani
menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Oh iya. Kenalkan, ini Ratna. Bidan
Ratna.” Mutiara memperkenalkan perempuan cantik yang berdiri disampingnya.
“Ratna.” Perempuan cantik itu
menyebutkan namanya..
“Khaerani. Tapi, panggil saja Rani,” jawab
Khaerani sambil tersenyum. “Oooh, jadi ini bidan yang akan Bu Said jodohkan
dengan Bimo. Benar-benar cantik dan anggun, orangnya kelihatan baik juga sopan.
Pantas saja Bu Said bersemangat menjodohkankannya dengan Bimo. Katanya juga
berasal dari keluarga berada. Apalah artinya
aku dibanding wanita ini,” benaknya.
Mutiara memperkenalkan Khaerani
kepada Ratna sebagai teman dan sahabat Bimo dari kecil. Baru saja Mutiara akan
berbicara kembali sebuah mobil masuk dan berhenti di depan rumah. “Itu Mas
Bimo, baru pulang dari kerja,” kata Mutiara.
Bimo keluar dari mobil dan kelihatan
terkejut ketika melihat Mutiara yang sedang bersama Khaerani dan Ratna. Anak
laki-laki Bu Said itu kemudian mendekati mereka. Mutiara tersenyum menyambut
kakaknya sambil melirik kearah dua perempuan yang bersamanya. Khaerani nampak
sedikit gelisah sedangkan Ratna nampak malu, wajahnya merona.
“Ada apa ini, kenapa kalian
berkumpul di luar?” tanya Bimo dengan suara agak bergetar. Tatapan matanya
beradu dengan Khaerani, hingga membuat gadis itu semakin merasa gelisah,
apalagi dilihatnya Ratna yang nampak jelas merasa senang ketika melihat
kedatangan Bimo. Mutiara menangkap keadaan yang terjadi, kemudian menjelaskan
Khaerani yang baru saja membeli kacang hijau seperti biasanya dan Ratna yang
mengirim sebuah cake hasil buatannya untuk Bu Said.
“Kenapa kalian tidak masuk saja ke dalam?”
kata Bimo kemudian.
“Sudah sore, Bim. Aku harus segera
pulang,” jawab Khaerani. Begitu juga dengan Ratna yang mengatakan hal yang
sama. Khaerani akhirnya pulang dengan
sepedanya dan Ratna dengan sepeda motornya.
“Bagaimana Mas?” kata Mutiara kepada
Bimo sepeninggal Khaerani dan Ratna.
“Bagaimana apanya?”
“Dengan mereka.” Mutiara tersenyum
melihat kakaknya yang memandang kearah perginya Khaerani. Bimo tidak menjawab,
hanya mengatakan kalau dia sangat capek dan harus segera mandi.
“Selalu begitu,” gumam Mutiara sambil
mengikuti kakaknya masuk ke rumah.
***
“Bidan itu sangat cocok dengan Bimo.
Begitu juga dengan keluarganya,” pikir Khaerani sambil mengayuh sepedanya meninggalkan
tempat Pak Said. “Ratna pasti menyukai Bimo. Aku bisa melihatnya ketika melihat
kedatangan Bimo dan memandangnya. Tapi bagaimana dengan Bimo? Gadis itu
kelihatannya gadis yang baik, tidakkah Bimo tertarik dengannya? Semua yang
diinginkan seorang laki-laki pada seorang perempuan sepertinya telah dipunyai
oleh Ratna.” Khaerani menghela nafasnya, hatinya bergetar, ada perasaan aneh
menyelimuti. Bayangan wajah Bimo muncul bergantian dengan wajah Bagas. Tiba-tiba
sebuah sepeda motor melintas disampingnya dengan kecepatan sedang. “Hei!
Bukankah itu Pak Sofyan dengan Mbak Marini? Mereka mau kemana?” katanya sambil
memperhatikan motor didepannya yang kemudian menghilang disebuah tikungan
jalan.
***
“Rani telah bertemu dengan Ratna. Apa
yang dia pikirkan tentang bidan itu sekarang?” pikir Bimo sambil meletakkan tas
kerjanyanya dimeja dikamarnya. Anak laki-laki Bu Said itu kemudian terduduk,
menghela nafasnya, kemudian menutup muka dengan kedua tangannya. “Apa yang
harus aku perbuat saat ini? Aku mencintai Rani tapi aku tidak mau mengecewakan
ibu.”
***
(Hmmmm....bagaimana ya kelanjutannya...baca Bagian 32)
Komentar
Posting Komentar