Postingan

Dan laut pun menjadi sepi..... (episode 26)

26.         Bekerja Taufan akhirnya mengikuti kemauan Papa dengan bekerja di kantornya. Faktor pendorong utamanya karena ingin melihat Mama senang dan bahagia, juga karena dia teringat nasihat Baruna yang mengatakan apa salahnya jika mengikuti kemauan Papa. Taufan satu ruangan dengan Bayu di kantor. Kakak iparnya tersebut dan juga Sekar membantunya. Seminggu berlalu . Taufan yang bekerja tanpa semangat semakin merasa tidak betah dan tidak nyaman dengan dunia barunya tersebut. “Aku tidak bisa bekerja seperti ini,” keluh Taufan pada Bayu. “Belajar sedikit demi sediti Fan, nanti kamu juga akan bisa dan terbiasa.” Bayu mencoba memberikan semangat. Taufan terbatuk. “Ini bukan duniaku, Mas. Jika aku terus di sini, pasti akan sel a lu merepotkan dan membuang waktumu, juga Sekar!” Bayu menghela nafasnya. “Aku tahu Fan, ini bukan keinginanmu, tapi keinginan Papa. Kamu pasti melakukannya dengan terpaksa. Cobalah, setidaknya demi Mama, seperti ya...

Dan laut pun menjadi sepi..... (epidode 25)

25.         Wisuda   Graha Wisuda nampak ramai. Para wisudawan yang memakai toga lengkap dengan topi wisuda berwarna hitam nampak mendominasi. Sebagian lain adalah keluarga para wisudawan yang berpakaian rapi. Canda, tawa dan senyum nampak menghiasi mereka. Papa, Mama, Bayu dan Lintang yang dalam keadaan hamil tua berada diantaranya. Mereka terlihat senang dan bahagia, terutama Mama. Papa sempat emosi dan langsung ditenangkan oleh Bayu dan Lintang ketika Mama menyebut Badai yang tidak bisa datang pada wisuda adiknya, padahal kebahagiaan Taufan akan semakin lengkap dengan kehadirannya. Sekar datang setelah upacara wisuda selesai. Dia menyambut Taufan di pintu gedung graha wisuda . Papa, Mama, Bayu dan Lintang nampak senang melihatnya. Taufan sendiri sudah menduga kedatangan gadis cantik itu.             “Selamat Fan, akhirnya kamu diwisuda,” ucap Sekar sambil menjabat tangan Taufan. ...

Dan laut pun menjadi sepi..... (episode 24)

24.       Hilang Senin sore. Sepulang kerja Papa langsung masuk ke kamar Taufan.   “Kamu jadi apa jika kamu seperti ini terus Fan!” Papa marah ketika dilihatnya anak bungsunya itu sedang termenung di jendela. “Apa sebenarnya mau Papa! Aku di rumah salah! Aku di luar salah!” Taufan menjawab tanpa melihat Papa. “Papa ingin kamu tidak membuang waktumu dengan percuma! Ingat tiga hari lagi kamu wisuda! Setelah itu kamu langsung bekerja di tempat Papa!” Taufan terdiam. “Percuma ijazahmu nanti jika kamu hanya bisa berbuat seperti ini! Menjadi orang tidak berguna!” tukas Papa sambil keluar kamar. Taufan menghela nafasnya lalu menutup muka dengan kedua tangannya. *** Sore hari berikutnya Taufan berdiri di dermaga kecil sambil memandang matahari sore yang mulai tenggelam. “Sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini Fan?” kata Wulan yang berjalan mendekati Taufan dan kemudian berdiri disampingnya.  “Apa matahari seperti ini yang selalu dili...