Postingan

SANDYAKALA (Bagian 17)

17 Titip Bapak sakit, badannya lemah dan hampir tidak kuat untuk berjalan, juga nafasnya agak sesak. Pada awalnya tidak mau dibawa ke dokter, tapi setelah dirayu dengan berbagai macam cara, Bapak akhirnya mau periksa ke dokter di klinik dengan diantar Pram menggunakan sepeda motor. Dokter mengatakan kalau Bapak kecapekan, perlu banyak istirahat dan ada sedikit gangguan pernafasan. Pihak klinik menyarankan Bapak untuk rawat inap di klinik agar mendapat perawatan yang lebih intensif. Seperti biasanya, Bapak menolak, tapi dengan nasihat dari dokter Fahri yang mengatakan demi kebaikan semuanya, akhirnya Bapak mau juga untuk rawat inap di klinik, tapi dengan dengan mengajukan syarat, kalau tidak mau lama-lama dirawat di klinik. Dokter Fahri tersenyum ketika mendengar persyaratan dari Bapak. “Tidak lama kok Pak Seno, paling sehari atau dua hari,” kata dokter Fahri. Bapak dirawat di klinik. Pram, Khaerani dan Mak Lela bergantian menjaga Bapak di klinik. Malam harinya Khaerani yang me...

SANDYAKALA (Bagian 16)

16   Kedatangan tamu Pagi hari, suasana rumah Pak Said nampak sibuk “Makanan sudah beres semua kan, Bu?” kata Mutiara ketika berada di dapur. “Sudah, sebentar lagi juga sudah siap di meja makan. Kamu tenang saja, masalah dapur sudah beres semua!” Bu Said tersenyum sambil membelai rambut putrinya. “Kue bolunya sudah kamu iris?” “Ya ampun! Aku lupa!” Mutiara menepuk jidatnya sendiri, kemuadian langsung meninggalkan dapur dan berjalan ke meja makan, tempat dia meletakkan kue-kue-nya. Bu Said mengikuti Mutiara dari belakang. “Sini, biar ibu bantu mengiris kue bolunya. Bimo sama Bagas mana?” “Mereka di depan, mengatur kursi-kursi lagi, semalam sudah ditata, tapi katanya kurang bagus.” *** Seseorang berdiri sambil mengucapkan salam di pintu rumah Bu Said yang terbuka. Bimo dan Bagas membalas salam hampir bersamaan. Keduanya nampak terkejut ketika melihat seorang perempuan cantik berdiri dipintu. “Maaf cari siapa ya?” tanya Bagas. “Bu Said. Ini ada kiriman buat ...

SANDYAKALA (Bagian 15)

15   Pergi kemana? Bimo baru saja keluar dari mobil ketika dilihatnya Munir dengan sepeda motornya masuk ke halaman rumah. Sementara Mukhlas sudah kembali dengan aktivitasnya, berkutat dengan jagung, kedelai, kacang hijau dan kacang tanah. “Munir sendirian. Dimana Bagas?” pikir Bimo. Munir turun dari sepeda motornya sambil membawa empat ekor ayam di tangannya, berjalan menuju pintu samping rumah, yang langsung menuju dapur. “Mas Munir!” panggil Bimo. “Ya Mas Bimo.” “Darimana?” “Ambil ayam-ayam pesanannya Bu Said dari rumahnya Pak Suseno, Mas,” kata Munir memperlihatkan ayam-ayam yang berada ditangannya. “Pak Suseno? Bapaknya Rani?” “Iya Mas.” “Sendirian?” selidik Bimo. “Pulangnya sndirian Mas. Tapi waktu berangkat bareng sama Mas Bagas.” “Terus, sekarang Mas Bagas-nya dimana?” “Sekarang saya tidak tahu dimana Mas Bagas, Mas.” Munir kemudian bercerita kalau Bagas turun di jalan sebelum sampai di rumah Pak Suseno. Setelah itu berjalan kembali ke pintu sam...